Kamis, 11 Desember 2014

PUisi

17 Agustus 2013


Hari ini, matahari adalah kereta
Yang akan mengakhiri perjumpaan kita dalam pesawat  kecil
“Hari kereta hari merdeka. Merdeka!!!”
Begitulah jam-jam menyanyikan lagu merdeka dalam setiap detiknya
Sedang di sini langitlangit kamarku akan mendung kembali

Berunding, bagaimana mengulang kembali setiap yang pergi.

Surabaya, 2013

Cemburu 5


pada 12 agustus kemarin kau datang dengan dua tubuh yang berbeda
lalu kau menawarkan apa saja padaku, entah
aku harus jawab apa?
Ketika kau tak lagi bermimpi jadi pengembara

Guluk-guluk, 2013

Cemburu 4

aku masih suka memainkan gitar
menyanyikan lagu kenangan
atau lagu hujan yang bermula dari langitlangit matamu.

Kerinduan, bukan melodi pagi yang baru kukenal
Atau lirik lagu senja dari bibirmu yang baru kuhafal

Tetapi grip malam, yang kerap meminjamkanku makna kecemburuan

Aeng panas, 2013

Cemburu 3

Pulanglah, neng
Jangan bikin rumah kita sepi
pulanglah kerumah yang sempat kita bangun
tanpa sepengetahuan matahari

Aeng panas, 2013

Bahasa yang tertunda

Kulihat kau masih tertawa, ro.
Dengan mengusir segala keadaan yang kuceritakan kemarin pagi

Senja di rumahku,
Seakan tidak mengidzinkan pagi kembali
Pucat dan gelap
Seakan mengawasi malam dan segala bawaannya.

Surabaya, 09, 2013

Engkau puisi

Begitu kau sebut kau deary                                 
Waktu  kejadian bermanja di mata
Sebelum rasa merindu citraku
Sebelum diri bercinta dengan permasalahan
Tiga tahun menyempatkanku di jalan
Namun dirimu bilang berantakan
Dan membikin hati sadar
Akan hidup yang tetap dalam permasalahan       

Lubsel, 2013

Aku dan puisi

Aku sengeja memendam jalan menujumu
Kepada mereka yang merindu
Barangkali aku belum sampai pada jalan mereka

Bila ada sayembara tentang kecantikanmu
Maafkan, biar mereka yang bertanding
Sebab aku malu di depanmu
Bila terlihat kakiku yang pincang
Dan hanya mata yang menatap

Baiklah,
Jika matahari tetap menyinari jalan
Atau masih tetap dengan janji,
Akan kucantikkan kau dengan segala perhiasan
Aku tetap mencintaimu
Sebagaimana mencintai jalan panjang
Sebab meninggalkanmu
Aku akan kehilangan yang telah terlewati           

lubsel, 2013

cemburu 1

Sudahlah, tak layak lagi bagiku melafadzkan isyarat saudara
Malam yang bagi kita kebahagiaan aku lebihkan setelah pejam matamu

Aku sang pelebay kesederhanaan demi jujurnya hati
Bukankah itu ungkapan sebagai ganti dari pertanyaan terdalam?

Dua jawaban dari untukmu, lebih baik aku mengalah
Adikku sayang, sayanngkah pada penyayang?

Untukkmu ikhlas kita hilang
Atau tetap tak dapatt jawaban
Itulah  pernyataan yang harus aku tanyakan
Terserah
Namun bayangu tetap berlari
Mengejar situs anganku di beranda pagi

Dan aku harus cemburu
Seperti yang diajarkanm malam itu

Bila.
Tapi kapankah?
Kalau tubuhku kau lepas walau sesaat

Guluk-guluk, maret 2013-05-14

Catatan 11-05-2013 02:22:54

Pagi sudah
Sebagai perencanaan hari yang sembunyi
Orang-orang enggan , melarikan diri dari pelepasan hak penguasa
ingin aku bertanya mengapa?
Sebagai rumus dari perbincangan waktu dulu
Atau jawaban dari perbedaan Tuhan dengan makhluk yang paling mulia

Sebelum Pamflet hari Kemarin

(sebelum pamflet transparan di wajah papan pengumuman
Sudikah mereka di sampingku terlebih dahulu )

Semoga saja  garis April tidak mengupas tuntas tapak kaki
Yang sempat aku tasbihkan di wajah ibu
Pada angka 15 di tubuhnya
Seakan menertawakan wajah ayah  dalam  mafsadat matahari

mafsadat matahari remang dimata
bebulanpun terasa absurd aku cerna
adakah keadilan yang tersisa
setelah kemenangan di garis April
meraka sudahlah aku kira
tapi mereka yang lain seperti berwajah tanda Tanya
sebelum pamphlet dating dari negeri
sudikah tubuhku baca?

LS, April-2013

Kopi Dalam Deary

Kopi dalam deary
Tak jua kudapat balasnya
Mengapa meninggalkan istri ?
Walau usai, aku ia pahami
Sekedar kutertibkan  riwayat
Dalam utuhnya puisi

Kopi dalam deary
Seakan aku kehilangan pagi

Bengkel puisi, 01-April-2013

Sebelum Pamflet Kemari

(sebelum pamflet transparan di wajah papan pengumuman
sudikah mereka di sampingku terlebih dahulu )

Semoga saja  garis April tidak mengupas tuntas tapak kaki
Yang sempat aku tasbihkan di wajah ibu
Pada angka 15 di tubuhnya
Seakan menertawakan wajah ayah  dalam  mafsadat matahari

mafsadat matahari remang dimata
bebulanpun terasa absurd aku cerna
adakah keadilan yang tersisa
setelah kemenangan di dalam sana ?
mereka sudahlah aku kira
tapi mereka yang lain,seperti berwajah tanda tanya
sebelum pamphlet datang dari negeri
sudikah tubuhku  mereka baca?

LS, April-2013

Estafet pada Deary Aini

Andai saja tak kubasahi
Barangkali musim takkan berganti

Hujan jatuh di jendela
Menendakan tirakat  tak lagi berarti
Apalagi saban kepulangan matahari
Seperti memalingkan wajah
Bila kutitipkan deary hari ini
Aini, aku bukan puisi yang berdiri dengan sendiri

Taman adipura,  April-2013

Kopi +

Setiap yang kulahirkan sudah itu suci
Setelah perkawinanmu dengan kekasih sendiri
Yang aku cintai saat hamil tubuhku

Sudah itu suci
Yang kusucikan dengan malam pertamamu
Atau dengan udara yang sempat melintas malam kedua

2013

Musim Dini Hari

Apa yang harus kusalahkan
Selalu menyalahkanku adalah pembodohan
Musim dini hari
Entah, usaikah bila subuh kembali

Musim dini hari
Seperti kopi musim yang lain
Yang enggan bila kututup dalam deary
Atau kutasbihkan setiap mereka lalai kupahami

Februari 2013

Kepada Bangsa Ini

Ibu menggulung tikar di halaman
Sehabis merontokkan hijau pohan siwalan

Lalu ia kirim ke kamar
Biar nyenyak aku lelap, katanya

Dan tangis pohon itu
Ayah simpan dalam deary
Setelah merubah warnanya
dengan kembang batu bara


Sajak Untuk Sekarang

Kuceritakan saja tentang kobar api di kepalaku
Menarik benihbenih di sabana
Selebihnya,
Jadi arang di balik barisan  baja
Seperti malam datang lagi
Setelah habis musimmusim kemerdekaan

Lihat,
Sumur-langit sudah tua
Untuk menghijaukan,
Melarikan kembali yang hilang

Jalanku,
Adalah jalan banyak pintu
Samua sudah tau.

Aku adalah Indonesia yang tak kunjung membangun usia
Sedang usia mereka mau kembali
Hanya menunggu musim yang tak berhenti

2012


SAJAK UNTUK IBU

Jika di takdirkan aku naik kelas pertama
Dan orang-orang menjeda tangannya
Sekedar meletakkan aku di beranda rumah-rumah
Biarlah hasrat kita
Merafak, menerjang langit terbuka
Tuhan di atas rumah kita
Korbankan hatimu bagiku,
Atau letakkan saja Dia di kamarku
Aqar mudah dirimu kusebarkan

Perjalanan gelap dan terang
Tak mampudetakkan jantung
Apalagi naik kelas pertama
Tanpa kau basahi Tuhan denganair mata

Aku hidup hanya bayangan
Setelah kau  bayangkan di wajah-wajah bayi tetangga
Inilah aku
Anak  manja yang kau manja
Anak luka yang tak kau duga

2012

SAJAK UNTUK AYAH

Dari adam di tulangmu
Dan keringat di kulit
Inilah aku
Yang akan jadi kepala
Dan melarikan kaki di otakku

Aku tanpa duga
Kau hanya mengikatku di antara maghrib dan isyak

Tetapi jangan lepas aku diantara kau dan Tuhan
 Aku hanya lanang  yang lahir dari surgamu
Surga ladang
Surga kuli
Dan surga para jelata

2012-12-08



SAJAK UNTUK ADIK

Seperti aku.



Pantai Lombang

Sudah beberapa kali aku menemuimu
Dengan remajaremaja yang akrab sekali pada tanah ini

Hangat nafasmu yang menceritakan penjual kaki lima di sekitar,
Ikan-ikan gugur dengan santai, serta penikmat cemara pagi.
Mencatat wajahku pada puisi
Hingga lahirlah kamu yang entah keberapa kali

Aku mencari makna kesendirian, melalui yang datang,
silau tubuhmu, serta girangnya kelapa muda di wajah pagi

Sekarang aku anak asuhah, bernafas pada karismatikmu
Bertetangga dengan anak tirimu

01022013

25 Februari

Selamat ulang tahun neng,
Tanggal 25 engkau sebrangi februari
Lepas, selepas air dari bebukitan
Hanyut pada aliran hening doa tetangga

Ingatlah kembali
Pada aliran air di sungai itu
Engkau lihai melihat keadaan di pinggirnya
Kadang kau terbentur pada batu tempat mandi mereka
Terlihat anak kecil yang mandi di dalamnya

Dalam perjalanan yang terbawa arus
Begitu asik kau resapi
Sebab di sampingmu, serupa anak kecil pada perahu kertasnya dalam genang air

Kini waktumu di hilir sudah
Satu langkah akan kau kenali riangnya binatang laut,
riak yang menitipkan hidup pada gelombang
tanpa kasih kabar pada Nelayan.
Itu bukan persoalan angin selatan pada langitmu
Tapi bagaimana kamu pada samudera

Hati-hati neng,
Menoleh kebelakang takkan sampai kau kesana
Sebab di depanmu bukan lagi air yang mengalir ke hilir

250213

Kisah Yang Terhapus

Kau mengasihi apa mengambil hatiku?

Nyaris matahari mengubur diri
Remang, langit di atas kita
Mematahkan kenangan dan yang akan padaku

Tak ada tyang tersisa bekas pijak kakimu
Bahkan, persetubuhan kita belum usai
Seperti adam dan hawa
Sepakat menikmati buah khaldi

Mari tatap kemarin hari
Saat matahari menawariku rumah baru
Engkau melarang
Mengajak serumah denganmu seusia jalan

Suatu waktu, cahaya lari dari mata kita
Segera aku meraba mencari lilin di jendela
Karena yang mengetahuiku  bukan cinta dan kekasih

Dan sekarang
Detik ketiga pada matahari di atasku
Seperti batubatu datang tanpa arah
memukulku tengah riangnya mereka
Aku terasing dari mereka
diri terasa baru aku terima
Esokku, jauh dari perjalanan pikiran
Sebab ucapku tak kau kabulkan

Tapi aku tak bosan dengan kita
Cukup kau sadari
Mengerti pada mimpi yang lihai aku pahami

2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar