17 Agustus 2013
Hari ini, matahari adalah kereta
Yang akan
mengakhiri perjumpaan kita dalam pesawat kecil
“Hari
kereta hari merdeka. Merdeka!!!”
Begitulah
jam-jam menyanyikan lagu merdeka dalam setiap detiknya
Sedang di
sini langitlangit kamarku akan mendung kembali
Berunding,
bagaimana mengulang kembali setiap yang pergi.
Surabaya,
2013
Cemburu 5
pada 12 agustus kemarin kau datang dengan dua tubuh yang berbeda
lalu kau
menawarkan apa saja padaku, entah
aku harus
jawab apa?
Ketika
kau tak lagi bermimpi jadi pengembara
Guluk-guluk,
2013
Cemburu 4
aku masih
suka memainkan gitar
menyanyikan
lagu kenangan
atau lagu
hujan yang bermula dari langitlangit matamu.
Kerinduan,
bukan melodi pagi yang baru kukenal
Atau
lirik lagu senja dari bibirmu yang baru kuhafal
Tetapi
grip malam, yang kerap meminjamkanku makna kecemburuan
Aeng
panas, 2013
Cemburu 3
Pulanglah, neng
Jangan
bikin rumah kita sepi
pulanglah
kerumah yang sempat kita bangun
tanpa
sepengetahuan matahari
Aeng
panas, 2013
Bahasa yang tertunda
Kulihat
kau masih tertawa, ro.
Dengan
mengusir segala keadaan yang kuceritakan kemarin pagi
Senja di
rumahku,
Seakan
tidak mengidzinkan pagi kembali
Pucat dan
gelap
Seakan
mengawasi malam dan segala bawaannya.
Surabaya, 09, 2013
Engkau
puisi
Begitu
kau sebut kau deary
Waktu kejadian bermanja di mata
Sebelum
rasa merindu citraku
Sebelum
diri bercinta dengan permasalahan
Tiga
tahun menyempatkanku di jalan
Namun
dirimu bilang berantakan
Dan
membikin hati sadar
Akan
hidup yang tetap dalam permasalahan
Lubsel,
2013
Aku
dan puisi
Aku
sengeja memendam jalan menujumu
Kepada
mereka yang merindu
Barangkali
aku belum sampai pada jalan mereka
Bila ada
sayembara tentang kecantikanmu
Maafkan,
biar mereka yang bertanding
Sebab aku
malu di depanmu
Bila
terlihat kakiku yang pincang
Dan hanya
mata yang menatap
Baiklah,
Jika
matahari tetap menyinari jalan
Atau
masih tetap dengan janji,
Akan
kucantikkan kau dengan segala perhiasan
Aku tetap
mencintaimu
Sebagaimana
mencintai jalan panjang
Sebab
meninggalkanmu
Aku akan
kehilangan yang telah terlewati
lubsel, 2013
cemburu
1
Sudahlah,
tak layak lagi bagiku melafadzkan isyarat saudara
Malam
yang bagi kita kebahagiaan aku lebihkan setelah pejam matamu
Aku sang
pelebay kesederhanaan demi jujurnya hati
Bukankah
itu ungkapan sebagai ganti dari pertanyaan terdalam?
Dua
jawaban dari untukmu, lebih baik aku mengalah
Adikku
sayang, sayanngkah pada penyayang?
Untukkmu
ikhlas kita hilang
Atau
tetap tak dapatt jawaban
Itulah pernyataan yang harus aku tanyakan
Terserah
Namun
bayangu tetap berlari
Mengejar
situs anganku di beranda pagi
Dan aku
harus cemburu
Seperti
yang diajarkanm malam itu
Bila.
Tapi
kapankah?
Kalau
tubuhku kau lepas walau sesaat
Guluk-guluk,
maret 2013-05-14
Catatan
11-05-2013 02:22:54
Pagi
sudah
Sebagai
perencanaan hari yang sembunyi
Orang-orang
enggan , melarikan diri dari pelepasan hak penguasa
ingin aku
bertanya mengapa?
Sebagai
rumus dari perbincangan waktu dulu
Atau
jawaban dari perbedaan Tuhan dengan makhluk yang paling mulia
Sebelum
Pamflet hari Kemarin
(sebelum
pamflet transparan di wajah papan pengumuman
Sudikah
mereka di sampingku terlebih dahulu )
Semoga
saja garis April tidak mengupas
tuntas tapak kaki
Yang
sempat aku tasbihkan di wajah ibu
Pada
angka 15 di tubuhnya
Seakan
menertawakan wajah ayah dalam mafsadat matahari
mafsadat
matahari remang dimata
bebulanpun
terasa absurd aku cerna
adakah
keadilan yang tersisa
setelah kemenangan
di garis April
meraka
sudahlah aku kira
tapi
mereka yang lain seperti berwajah tanda Tanya
sebelum
pamphlet dating dari negeri
sudikah
tubuhku baca?
LS,
April-2013
Kopi
Dalam Deary
Kopi
dalam deary
Tak jua
kudapat balasnya
Mengapa
meninggalkan istri ?
Walau
usai, aku ia pahami
Sekedar
kutertibkan riwayat
Dalam
utuhnya puisi
Kopi
dalam deary
Seakan
aku kehilangan pagi
Bengkel puisi, 01-April-2013
Sebelum
Pamflet Kemari
(sebelum
pamflet transparan di wajah papan pengumuman
sudikah
mereka di sampingku terlebih dahulu )
Semoga
saja garis April tidak mengupas tuntas tapak kaki
Yang
sempat aku tasbihkan di wajah ibu
Pada
angka 15 di tubuhnya
Seakan
menertawakan wajah ayah dalam mafsadat matahari
mafsadat
matahari remang dimata
bebulanpun
terasa absurd aku cerna
adakah
keadilan yang tersisa
setelah
kemenangan di dalam sana ?
mereka
sudahlah aku kira
tapi
mereka yang lain,seperti berwajah tanda tanya
sebelum
pamphlet datang dari negeri
sudikah
tubuhku mereka baca?
LS, April-2013
Estafet
pada Deary Aini
Andai
saja tak kubasahi
Barangkali
musim takkan berganti
Hujan
jatuh di jendela
Menendakan
tirakat tak lagi berarti
Apalagi
saban kepulangan matahari
Seperti
memalingkan wajah
Bila
kutitipkan deary hari ini
Aini,
aku bukan puisi yang berdiri dengan sendiri
Taman adipura, April-2013
Kopi +
Setiap
yang kulahirkan sudah itu suci
Setelah
perkawinanmu dengan kekasih sendiri
Yang aku
cintai saat hamil tubuhku
Sudah itu
suci
Yang
kusucikan dengan malam pertamamu
Atau
dengan udara yang sempat melintas malam kedua
2013
Musim
Dini Hari
Apa yang
harus kusalahkan
Selalu
menyalahkanku adalah pembodohan
Musim
dini hari
Entah,
usaikah bila subuh kembali
Musim
dini hari
Seperti
kopi musim yang lain
Yang
enggan bila kututup dalam deary
Atau
kutasbihkan setiap mereka lalai kupahami
Februari 2013
Kepada
Bangsa Ini
Ibu
menggulung tikar di halaman
Sehabis
merontokkan hijau pohan siwalan
Lalu ia
kirim ke kamar
Biar
nyenyak aku lelap, katanya
Dan
tangis pohon itu
Ayah
simpan dalam deary
Setelah
merubah warnanya
dengan
kembang batu bara
Sajak Untuk Sekarang
Kuceritakan
saja tentang kobar api di kepalaku
Menarik
benihbenih di sabana
Selebihnya,
Jadi
arang di balik barisan baja
Seperti
malam datang lagi
Setelah
habis musimmusim kemerdekaan
Lihat,
Sumur-langit
sudah tua
Untuk
menghijaukan,
Melarikan
kembali yang hilang
Jalanku,
Adalah
jalan banyak pintu
Samua
sudah tau.
Aku
adalah Indonesia yang tak kunjung membangun usia
Sedang
usia mereka mau kembali
Hanya
menunggu musim yang tak berhenti
2012
SAJAK UNTUK IBU
Jika di
takdirkan aku naik kelas pertama
Dan
orang-orang menjeda tangannya
Sekedar
meletakkan aku di beranda rumah-rumah
Biarlah
hasrat kita
Merafak,
menerjang langit terbuka
Tuhan di
atas rumah kita
Korbankan
hatimu bagiku,
Atau
letakkan saja Dia di kamarku
Aqar
mudah dirimu kusebarkan
Perjalanan
gelap dan terang
Tak
mampudetakkan jantung
Apalagi
naik kelas pertama
Tanpa kau
basahi Tuhan denganair mata
Aku hidup
hanya bayangan
Setelah
kau bayangkan di
wajah-wajah bayi tetangga
Inilah
aku
Anak manja yang kau manja
Anak luka
yang tak kau duga
2012
SAJAK UNTUK AYAH
Dari adam
di tulangmu
Dan
keringat di kulit
Inilah
aku
Yang akan
jadi kepala
Dan
melarikan kaki di otakku
Aku tanpa
duga
Kau hanya
mengikatku di antara maghrib dan isyak
Tetapi
jangan lepas aku diantara kau dan Tuhan
Aku
hanya lanang yang lahir
dari surgamu
Surga
ladang
Surga
kuli
Dan surga
para jelata
2012-12-08
SAJAK UNTUK ADIK
Seperti
aku.
Pantai
Lombang
Sudah
beberapa kali aku menemuimu
Dengan
remajaremaja yang akrab sekali pada tanah ini
Hangat
nafasmu yang menceritakan penjual kaki lima di sekitar,
Ikan-ikan
gugur dengan santai, serta penikmat cemara pagi.
Mencatat
wajahku pada puisi
Hingga
lahirlah kamu yang entah keberapa kali
Aku
mencari makna kesendirian, melalui yang datang,
silau
tubuhmu, serta girangnya kelapa muda di wajah pagi
Sekarang
aku anak asuhah, bernafas pada karismatikmu
Bertetangga
dengan anak tirimu
01022013
25
Februari
Selamat
ulang tahun neng,
Tanggal
25 engkau sebrangi februari
Lepas,
selepas air dari bebukitan
Hanyut
pada aliran hening doa tetangga
Ingatlah
kembali
Pada
aliran air di sungai itu
Engkau
lihai melihat keadaan di pinggirnya
Kadang
kau terbentur pada batu tempat mandi mereka
Terlihat
anak kecil yang mandi di dalamnya
Dalam
perjalanan yang terbawa arus
Begitu
asik kau resapi
Sebab di
sampingmu, serupa anak kecil pada perahu kertasnya dalam genang air
Kini
waktumu di hilir sudah
Satu
langkah akan kau kenali riangnya binatang laut,
riak yang
menitipkan hidup pada gelombang
tanpa
kasih kabar pada Nelayan.
Itu bukan
persoalan angin selatan pada langitmu
Tapi
bagaimana kamu pada samudera
Hati-hati
neng,
Menoleh
kebelakang takkan sampai kau kesana
Sebab di
depanmu bukan lagi air yang mengalir ke hilir
250213
Kisah
Yang Terhapus
Kau
mengasihi apa mengambil hatiku?
Nyaris
matahari mengubur diri
Remang,
langit di atas kita
Mematahkan
kenangan dan yang akan padaku
Tak ada
tyang tersisa bekas pijak kakimu
Bahkan,
persetubuhan kita belum usai
Seperti
adam dan hawa
Sepakat
menikmati buah khaldi
Mari
tatap kemarin hari
Saat
matahari menawariku rumah baru
Engkau
melarang
Mengajak
serumah denganmu seusia jalan
Suatu
waktu, cahaya lari dari mata kita
Segera
aku meraba mencari lilin di jendela
Karena
yang mengetahuiku bukan
cinta dan kekasih
Dan
sekarang
Detik
ketiga pada matahari di atasku
Seperti
batubatu datang tanpa arah
memukulku
tengah riangnya mereka
Aku
terasing dari mereka
diri
terasa baru aku terima
Esokku,
jauh dari perjalanan pikiran
Sebab
ucapku tak kau kabulkan
Tapi aku
tak bosan dengan kita
Cukup kau
sadari
Mengerti
pada mimpi yang lihai aku pahami
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar